Branding Kota Bandung sebagai Kota Budaya dan Pendidikan melalui Sister City Bandung dan Braunschweig
DOI:
https://doi.org/10.46975/Aliansi294Keywords:
Bandung, Braunscweig, Sister, BrandingAbstract
Kota Bandung telah menjalin banyak hubungan kerja sama internasional. Salah satu bentuk kerja sama yang dibina oleh Kota Bandung meliputi kerja sama internasional dengan kota-kota lain dari negara lain yang tentunya memiliki visi yang sama, yaitu ingin saling berkontribusi pada pembangunan kedua belah pihak. Kolaborasi ini dikenal sebagai kota kembar atau mitra kota kembar. Salah satu kolaborasi kota kembar yang telah dijalin “Kota Bandung adalah dengan sebuah kota di Jerman, yaitu Kota Braunschweig. Kolaborasi Kota Kembar Bandung-Braunschweig yang telah berlangsung hingga saat ini berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 2 Juni 1960 merupakan momentum yang menjadi awal perkembangan Kota Kembar di Indonesia, telah menghasilkan beberapa kegiatan yang dapat meningkatkan hubungan antara kedua kota, yaitu di bidang: Kebudayaan, Pendidikan dan pelatihan, Program olahraga, Program pertukaran pemuda, Program ekonomi.”
Melihat potensi kerja sama kreatif yang dibangun antara Bandung dan Braunschweig, Pemerintah Kota Bandung memulai program branding kota “Kota Budaya dan Pendidikan” yang, meskipun dalam perjalanannya terus berubah, tidak hanya budaya dan pendidikan yang akan dipromosikan tetapi juga akan berkembang menjadi kota kreatif. Namun, karena program kolaborasi ini berfokus pada bidang pendidikan dan budaya, branding yang dilakukan juga berfokus pada kota budaya dan pendidikan dalam konteks pengembangan kota kreatif di semua bidang.
Metode “penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan paradigma konstruktivisme, dan jenis studi kasus. Subjek penelitian adalah pejabat Pemerintah Kota Bandung dan Kedutaan Besar Jerman yang dipilih secara purposif. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipan pasif, dan studi literatur.”
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selama 50 tahun, kolaborasi ini belum menghasilkan hasil yang signifikan meskipun ada program kolaborasi yang dilaksanakan termasuk pertukaran pelajar, pameran budaya dan UMKM, serta pertukaran pemuda. Namun, kolaborasi ini dianggap hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu, bukan seluruh masyarakat di Bandung
References
Ardianto, Elvinaro. (2007). Filsafat Ilmu Komuikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Berger, Peter L. & Thomas Luckmann .(1990). Tafsir Sosial atas Kenyataan: Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan (diterjemahkan dari buku asli The Social Construction of Reality oleh Hasan Basari). Jakarta: LP3ES
Creswell, John.W. (2012). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Creswell, John.W. (1998). Qualitative Inquiry And Research Design. London. Sage Publications, Inc.
Ritzer, George dan Goodman Douglas. (2004). Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Prenada Media
Mulyana, Deddy. (2010). Metode Penelitian Kualitatif: paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya
Moleong, Lexi. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Nasution, S . (2002). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito
Sinaga, Obsatar. (2002). Otonomi Daerah dan Kebijakan Publik: Implementasi Kerjasama Internasional. Bandung: Lepsindo
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: CV Alfabeta
Suparno, P. (1997). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Cet. Ke-7. Yogyakarta: Kanisius
https://bandungbergerak.id/article/detail/633/buku-bandung-6-awal-persahabatan-bandung-dan-braunschweig diakses pada 12 Maret 2026
https://www.kelasgarasi.com/monumen-bandung-braunschweig-simbol-sister-city-terlama/ diakses pada 12 Maret 2026







